Beranda > kisah kisah.. > Kisah Sedih Penyesalan Istri terhadap suaminya – Bisa dijadikan pelajaran hidup

Kisah Sedih Penyesalan Istri terhadap suaminya – Bisa dijadikan pelajaran hidup

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

From : Mas danu Trila

REPOST dari notes teman facebook :   Sumber

About these ads
Kategori:kisah kisah..
  1. den baguse
    November 4, 2011 pukul 11:09 pm

    Sebuah keteladan diakhir akan lebih baik.
    entah nyata atau fiksi kalo cerita ini benar-benar menggugah bagaimana seorang istri seharusnya mencintai suaminya. thank guys.

    • pyok
      November 18, 2011 pukul 12:50 pm

      okey den baguse,, always remember and love our family :)

  2. November 13, 2011 pukul 3:36 pm

    sgt menyedihkan…

    • pyok
      November 18, 2011 pukul 12:52 pm

      Sayangi suamimu seperti menyayangi dirimu sendiri hehehe

  3. November 28, 2011 pukul 1:19 am

    ceritanya sedih banget…

    • pyok
      November 28, 2011 pukul 4:34 pm

      kalau dihayati pasti sedih :)

  4. Desember 1, 2011 pukul 8:03 am

    betapa beruntung wanita yang mendapatkan pria seperti itu

    • pyok
      Desember 2, 2011 pukul 9:48 am

      belajarlah dari pengalaman wanita itu, sedangkan untuk pria belajarlah menjadi suami seperti itu hehe

  5. Ronny
    Desember 19, 2011 pukul 8:50 am

    gini bro aku mau membuat sebuah buku tentng kita belajar dari kisah sesorng…
    ane mau copi ni gan ane masukkn alamt blog ini sebagai sumbernya. kira2 dapat iin ngk ni bro

    • pyok
      Desember 19, 2011 pukul 11:24 am

      iya gak papa bro, asal dikasih sumbernya aja. aku kan dapatnya juga dari teman facebook, ini bukan murni dari saya. Saling berbagi itu indah :)

  6. Eryna
    Januari 24, 2012 pukul 11:06 pm

    Subhanallah………….

  7. suwardi
    Januari 28, 2012 pukul 10:49 pm

    minta copas ya mas pyok, boleh kan, sumbernya dikasih kok,

  8. WanCs
    Januari 29, 2012 pukul 11:45 pm

    Sungguh mnyentuh hati.in mnjdi plajaran bg wanita yg akan mmpunyai suami nantiny.

  9. emil mukhtar
    Februari 7, 2012 pukul 7:53 am

    ya. alloh……….,

  10. sayang_papa
    Februari 7, 2012 pukul 11:42 pm

    kasian anak-anak, masih kecil, hrs kehilangan ayah :(

  11. Februari 11, 2012 pukul 9:42 am

    touched my heart

  12. Lena noor
    Maret 4, 2012 pukul 2:43 pm

    Nice story.. Sedih bgetttttt..
    Sampai sesek dada ku saat mmbacanya..

  13. Maret 12, 2012 pukul 12:00 pm

    aku membacanya smbil mnangis dan menghabiskan tisu hmpir skotak

  14. Maret 13, 2012 pukul 3:22 pm

    sangat menyentuh, makasih sharenya mas.

  15. zulfia dewiany
    Maret 14, 2012 pukul 5:30 pm

    kita harus bersyukur dgn apa yg kita miliki. Mungkin itulah jawaban ttg kisah sedih diatas…

  16. Maret 23, 2012 pukul 2:16 pm

    keteladanan yang patut di contoh oleh seorang istri atau suami.

  17. Nasyiah
    Maret 24, 2012 pukul 2:20 pm

    I like,,, sedih banget. Kita baru merasa menyesal jika kita sudah kehilangannya…

  18. iin
    April 11, 2012 pukul 1:40 pm

    Oh my god,, aku sampe nangis baca cerita ini… kenapa kamu begitu tega liliana,,sampai sampai nya kamu mengabaikan suamimu selama sepuluh tahun,,,,begitu mulia dan sabar suamimu,,menghadapimu yang saklek bangke…. sekarang kamu menyesal,,,emg yah penyesalan sllu dtng trlambat…….

  19. safari mudiono
    April 17, 2012 pukul 7:18 pm

    Aku seorang tentara tapi aku meneteskan air mata saat membaca kisah ini

    • pyok
      April 19, 2012 pukul 7:27 am

      itu membuktikan bahwa anda mempunyai hati dan perasaan seperti yang lain pak. :)

  20. dani oktafianus
    April 21, 2012 pukul 5:37 pm

    hi…hi….hi…sedih kali…hi…hi….nagis…ni….

  21. fifin
    Mei 23, 2012 pukul 12:01 pm

    menyedihkan dan myntuh hatii..
    menggugah semngat untuk mnjd istri yg berbakti

  22. Juni 6, 2012 pukul 10:44 am

    sy sangat sedih membaca cerita diatas. Sangat menyentuh dan sangat berbanding terbalik dengan kehidupan sy. Ya tuhan maafkanlah segala kesalahan sy, bila ada kekurangan sy dimata istriku. dan semoga sy bisa belajar dari cerita diatas, agar bisa berusaha lebih mencintai istri dan anakku lebih dari sy mencintai diri sendiri..!! Dan sy pun akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak dan istriku. Apapun itu… Dengan segala kemampuanku. Amin!!!

    • pyok
      Juni 9, 2012 pukul 2:01 pm

      Amiiin :) semoga bermanfaat.

  23. Alikha
    Juni 6, 2012 pukul 2:33 pm

    Aduh jadi nangis baca ini.Aku suka ceritanya

  24. Juni 15, 2012 pukul 9:23 am

    khhuuuufffffff,,,,
    pelajaran buat kita semua kawan,,,

  25. derry
    Juni 17, 2012 pukul 12:12 pm

    ceritanya wah banget… baru kali ini aku nangis gara” baca kyk gini,, hah

  26. Juni 26, 2012 pukul 10:07 am

    sedih baca crita nya,,, nangis b’ner, sampai aq sembunyi dipojok kelas
    biar gak ketahuan ama temen, bhwa aq nangis baca nya,,
    wah ini kenyataan gak yah…

    • pyok
      Juni 26, 2012 pukul 12:19 pm

      Untuk fakta / fiksinya saya kurang paham mbak karena saya juga menyadur dari tulisan seseorang di facebook, tapi menurut saya pribadi itu adalah sebuah cerita yang terinspirasi dari kisah nyata nya. So, udah tau kan apa yang harus kita lakukan dan tidak harus kita lakukan untuk pasangan kita nantinya :)

  27. Juni 27, 2012 pukul 10:00 am

    kereeennn,,,
    terharu membacanya,,,
    Air mata mengalir saat membacanya,,,
    dan Membuat Q tahu arti dari semua…
    thanks….

  28. Juli 5, 2012 pukul 9:20 am

    Great husband

  29. Agustus 2, 2012 pukul 8:38 pm

    Bagus banget ………

  30. anChy@luKman
    Agustus 11, 2012 pukul 12:08 pm

    Subohanallah.mudah2han nanTi Q g TERgolong istri yang semacam itu……amiiinnnn

  31. Surya_Bunglon7749
    Agustus 24, 2012 pukul 4:52 pm

    Cerita yg bagus , sering q membaca tp ga spt ini. Maka Hargailah psangan mu seadax. Meskipun sedang galau.tq freind.

  32. Agustus 30, 2012 pukul 2:21 pm

    sungguh sedih cerita itu sampe” aku meneteskan air mata. . .

  33. iie sulistya
    September 1, 2012 pukul 9:05 am

    ya Alloh…menangis aku, i l u my husband

  34. madinah
    Oktober 3, 2012 pukul 6:37 am

    smg bsa jdi tauladan butq ntix Untuk suamiQ Nantix. smg q bs jdi isrti yg sholeh bgi suamiq

  35. lya
    Desember 31, 2012 pukul 1:43 pm

    menyesakan dada kan menjadi kenangan di otak sya & bsa d jdiin
    plajaran hdup jga

    • pyok
      Januari 4, 2013 pukul 9:23 am

      hehehehe iya gan, amiin… semoga kita jdi suami yang baik untuk istri kita

  36. mukhsin mln
    Januari 14, 2013 pukul 12:01 pm

    Very interesting…

  37. nur'a safitri
    Januari 18, 2013 pukul 10:36 pm

    sediiiiiih bangeeet :'( gk berenti nih nangis….. :'(

  38. deddy
    Februari 26, 2013 pukul 9:48 am

    manusia boleh meninggal dunia tp cinta nya tetap abadi… nice story

    • pyok
      Februari 28, 2013 pukul 7:22 pm

      thanks gan, semoga bisa menjadi pelajaran kita semua. jangan lupa kunjungi situs saya yang lain >> http://ilmudroid.blogspot.com

  39. Mei 16, 2013 pukul 3:56 am

    mbak aku juga menyesal telah menyia2kan kehidupanq setahun yang lalu bersama suamiq yg sngt memanjakanku… Tp kini dia benar2 meninggalkanku dg menceraikanku setelah kelahiran anak pertama kami. Mgk tak ad maaf lg bgq d hatix yg sll aq lukai slm ini… Aq meratapi nasibq dn putraq tp tak mampu mengembalikan keutuhan kelgq lg…

    • pyok
      Juni 14, 2013 pukul 2:42 pm

      turut bersedih mbak :( semoga takdir menuntun jalan yang lebih baik buat mbak dan keluarganya

  1. Juni 13, 2012 pukul 12:37 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: